Tempat Ziarah Tiga Agama Besar di Nusantara

Kamis malam Jumat (4/10), tiga punggawa BINs Investigative Journalism melakukan penelusuran sejarah ke-bhinneka-an dan toleransi bangsa di Nusantara dengan mengunjungi Vihara Bahtera Bhakti, Pasir Putih Ancol, Jakarta Utara.

Hal ini adalah bagian dari program kerjasama BINs (Bhayangkara Indonesia News) dengan Satgas Nusantara Polri dalam menciptakan Pemilu 2019 yang damai, aman dan kondusif. BINs sebagai media binaan Divisi Hukum Mabes Polri merasa perlu melakukan penggalian dan riset langsung sejarah keberagamaan dan toleransi di Indonesia masa lampau.

Para jurnalis BINs juga berkesempatan ziarah di salah satu makam Waliyulloh, Al-Habib ‘Ali Bin Ahmad Abdulloh Al-Habsyi atau lebih dikenal Mbah Said Areli Dato Kembang yang berada di kompleks vihara tersebut. Di dekatnya juga terdapat makam istri Dato Kembang yang bernama Syarifah Eneng, kemudian Al-Habib Hanun Bin Syeikh Abu Bakar dan Hababah Syarifah Regoan Binti Hanun Binti Syeikh Abu Bakar.

Selepas Maghrib, tim meluncur ke lokasi vihara yang berada di kawasan pemukiman elit Pasir Putih Ancol. Suasana vihara nampak sepi dan pintu utama tertutup. Kami langsung menuju ke dalam Vihara Bahtera Bhakti dan ditemui salah satu penjaga bernama Parto asal Purwodadi, Grobogan.

Dari berbagai literatur dan keterangan langsung juru kunci vihara, kami menggali nilai-nilai toleransi yang ternyata sudah dipraktekan oleh nenek moyang bangsa ini sejak berabad-abad silam.

Vihara Bahtera Bhakti awalnya sebuah Kelenteng An Xu Da Bo Gong Miao (Kelenteng Toapekong Ancol), sebuah kompleks peribadatan yang didirikan sekitar 1650 Masehi dan masih berdiri kukuh hingga saat ini, menjadi pertanda hubungan baik Tiongkok-Pasundan di tepi pantai Ancol.

Tempat itu menjadi peribadatan umat Buddha, Konfusius (Konghuchu), sekaligus peziarahan bagi umat Muslim di Betawi tempo dulu hingga kini. Penyebabnya adalah sejumlah makam tokoh Sunda dan beragama Islam sekaligus keberadaan Sam Po Kong yang Muslim di tempat itu menjadikannya sebagai tempat pertemuan umat dari pelbagai agama.

Johannes Widodo, pakar arsitektur dan peneliti Cheng Ho dari National University of Singapore (NUS), menjelaskan, kompleks makam tersebut merupakan peninggalan sejarah muhibah armada Cheng Ho yang berulang kali mengunjungi Jawa pada abad ke-15.

”Sam Po Kong (Cheng Ho —Red) sendiri jarang turun ke darat sebagai pembesar dan tetap tinggal di atas kapal. Biasanya, para pejabat kepercayaan turun ke darat mengadakan kunjungan persahabatan dengan kerajaan lokal. Yang turun di Ancol adalah Sam Po Soei Soe,” Johannes memaparkan.

Dalam karya ilmiahnya, Johannes menulis dalam Kelenteng terdapat tiga makam Islam, yakni kuburan Sam Po Soei Soe, istrinya seorang putri bangsawan Sunda, dan makam ayah sang putri (Embah Said Dato Kembang). Tempat itu menjadi peziarahan Tionghoa dan Muslim sehingga makanan mengandung babi tidak boleh disajikan di kompleks kelenteng itu.

Sebuah kisah mengatakan, saat menikah, pasangan Tionghoa-Sunda itu saling berjanji tidak akan menghidangkan babi yang diharamkan dalam Islam. Petai dan jengkol juga dilarang karena dianggap berbau tidak sedap. Itu dilakukan sebagai rasa saling menghargai antara kedua insan tersebut.

Parto, yang sudah menjaga makam Embah Said Dato Kembang atau Kramat Ancol Kota Paris sejak tahun 90an, membenarkan keterangan tersebut dan menyatakan bahwa tempat itu menjadi tempat ziarah bagi orang Islam mau pun Tionghoa. Tempat itu memang unik, di Kramat tersebut terdapat makam Embah Said dan istrinya, Ibu Emmeng, yang beragama Islam.

Batu peringatan pada makam itu tertulis dalam bahasa Melayu dan huruf Han Zi. Sedangkan perlengkapan sembahyang dan ziarah tersedia untuk berdoa sesuai cara Islam atau Tionghoa.

Pemandangan di dalam bangunan utama kelenteng tak kalah uniknya. Di sana terdapat makam dan altar pasangan ”pembauran” Sam Po Soei Soe dan istri Ibu Siti Wati. Di sisi makam Siti Wati terdapat makam Ibu Mone. Menurut Tan Yin Cang (Chen Ying Chang dalam bahasa Mandarin), salah satu penjaga wihara, Ibu Mone masih terhitung kerabat Ibu Siti Wati.

Di sudut ruangan terdapat makam Kong Tjoe Tjou Seng yang juga juru masak Armada Zheng. Di tempat pemujaan utama memang terdapat patung dan papan nama Sam Po Tay Jin (Zheng He) di sudut kiri, Sam Po Soei Soe dan Ibu Siti Wati di tengah, dan Kong Tjo Tjo Seng di sudut kanan.

Selain altar utama itu, terdapat juga tempat sembahyang lain seperti tempat pemujaan Kwan Kong, Buddha, Kwan Im, Dewa Bulan, dan Dewa Matahari, dan sesembahan lain.

Faktor penghormatan leluhur sangat penting dalam budaya Tionghoa. Keberadaan pasangan Tionghoa dan Sunda di kompleks wihara tersebut tidak luput dari penghormatan masyarakat Tionghoa yang menjalankan ibadah.

Peninggalan Sejarah Yang Terlupakan

Meski bernilai sejarah tinggi, Kelenteng Ancol seolah tenggelam dan terlupakan di tengah hiruk-pikuk Jakarta dan keramaian peringatan 600 tahun ekspedisi Cheng Ho yang dipusatkan di Semarang selama pekan pertama Agustus 2005 lalu. Letaknya tersembunyi di sisi timur Taman Impian Jaya Ancol, dan berada di sudut perumahan mewah dekat Jalan Pasir Putih III dan Jalan Pantai Sanur di kawasan bekas Sirkuit Ancol.

Kelenteng Ancol merupakan salah satu jejak sejarah Jakarta sebagai Bandar Internasional. Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menulis, pada abad ke-17 dan ke-18 Ancol merupakan tempat hunian mewah dan taman besar, tetapi akhirnya ditinggalkan penghuni akibat wabah malaria di daerah berawa-rawa itu.

Sedangkan catatan resmi keberadaan Kelenteng Ancol baru muncul dalam catatan essay A Tesseire (diterbitkan 1792) sebagai: ”kelenteng tertua dan didirikan pada pertengahan abad lalu yakni sekitar 1650”. Keterangan itu sejalan dengan peringatan di dalam kelenteng pada restorasi tahun 1923. Setidaknya salah satu papan berukiran huruf Han Zi di dekat bangunan utama memang mencantumkan tahun 1755 Masehi.

Tahun 1790, menurut Heuken, orang Tionghoa membeli kompleks tersebut dari VOC. Selanjutnya, dilakukan restorasi pada tahun 1839, 1923, 1952, dan 1974. Bentuk wihara Ancol saat ini memang masih asli dan merupakan kondisi pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1700-an.

Pesan saling menghargai dan kerukunan antarbangsa adalah semangat yang dibawa Zheng He dan setidaknya diwariskan dalam situs sejarah Wihara Buddha Bhakti Ancol.
Tak heran National Geographic menggambarkan Zheng He sebagai orang besar yang menghargai keragaman dan menjunjung kesetaraan. Sayang, pesan tersebut terkubur di tengah hiruk-pikuk dan materialisme warga ibu kota Jakarta.

Mari wujudkan gelaran Pemilu 2019, baik Pemilu Legislatif maupun Pemilu Presiden dalam semangat ke-bhinneka-an dan toleransi sebagaimana telah dicontohkan para leluhur banhsa ini.

Indahnya Kebersamaan dan Persaudaraan

Salam Indonesia Raya

(Bimo Untung Surono, Arief Luqman El Hakiem, Idris Mappak Kaya).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here